Ada Kalanya Jenuh dengan Sepakbola ...

Ada Kalanya Jenuh dengan Sepakbola ...

BD - Tulisan pertama saya dimuat di tabloid GO sekitar 20 tahun yang lampau. Sayang, tabloid itu kini sudah alhamarhum.  Padahal, dulu di tahun 1990an, GO merupakan referensi bacaan andalan saya selain BOLA.

Maklum saat itu media cetak masih sangat terbatas. Apalagi internet! Saya masih ingat tulisan perdana saya yang dimuat berjudul: "Tolonglah, PSMS!"

Ya, saat itu 'skuad Ayam Kinantan' yang dikomandoi arsitek asal Brazil, Jairo Matos sedang lumayan performanya. Namun terlilit masalah keuangan sehingga banyak pemain demotivasi.

Senang bukan main rasanya. Saya beli koran GO di langganan saya di depan Holland Bakery, di jalan Arteri Pondok Indah naik sepeda. Selama mengayuh pulang ke rumah, rasa bangga dan senang menggerayangi tubuh saya.

Tulisan berikutnya yang paling tidak pernah saya lupakan yakni soal 'Sepakbola Gajah' Indonesia vs Thailand di Piala Tiger 1998 (sekarang AFF Suzuki Cup).

Saya masih ingat betul hanya menonton pertandingan tersebut selama 15 menit dan langsung saya matikan televisi. Lantas saya nyalakan komputer untuk menumpahkan kejijikan saya akan aksi murahan para punggawa 'Merah-Putih' saat itu. 

Judulnya-pun saya bikin agak bombastis: Indonesia vs Thailand = Sampah! Tapi well itu-lah tumpahan ekspresi saya. Faktanya tulisan ini dimuat di kolom pembaca di dua tabloid sekaligus: BOLA dan GO.

Judul dan isinya, titik-koma, hampir tidak ada yang dirubah. Inti dari tulisan itu adalah saya dan mungkin banyak rakyat Indonesia kecewa, sedih dan malu atas tindakan pengecut timnas kita saat itu.

Di alinea terakhir saya bahkan menulis: "Kalau-pun Indonesia berhasil merebut Piala Tiger, lebih baik dibuang ke tong sampah karena digapai dengan cara haram". Begitu kira-kira isinya.

Sudah 20 tahun berlalu. Hari berganti hari, bulan ketemu bulan dan tahun ganti tahun. Dari mulai Liga Dunhill, Kansas, Liga Bank Mandiri, ISL sampai Torabika Soccer Championship.

Di luar negeri, Piala Dunia (PD) dan Euro datang silih beranti empat tahun sekali. Legenda datang dan pergi. Industri sepak bola terus merangsek sampai titik yang tidak masuk akal.

Dulu.. tahun 1990an tidak terbayangkan ada pemain dihargai €105 juta / sekitar Rp 1,521 trilyun. Dan usianya baru 23 tahun lho! Ini kalau dibeli cendol bisa tenggelam mungkin Kemang dan sekitarnya.

Well, tapi itulah perjalanan sepak bola. Kian hari kian mengglobal. Gaji pemain kian menggila. Valuasi tiap-tiap klub sepak bola semakin membubung tinggi. Ada Manchester United, Manchester City, Arsenal, Paris Saint-Germain, Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, Juventus dan banyak lagi.

Menjadi menarik kalau kita melihat bahwa organisasi-organisasi macam FIFA maupun UEFA lah yang mampu meng-create semua itu menjadi industri jasa yang super masif.

Saat meliput Europa League kemarin, saya tertarik mengulik sedikit mengenai kota penyelenggara, Basel yang berada di Swiss.

Kota yang berada di persimpangan antara Swiss, Jerman dan Perancis ini sebenarnya tak terlalu istimewa. Bersih, sejuk itu sudah pasti. Namun selain konon merupakan tempat peristirahatan pensiunan orang Swiss, dari sini-lah lahir UEFA yang pada akhirnya menjadi organisasi powefull yang mengorganisir lebih dari 50 negara dan ribuan klub di seantero Eropa.

Di ajang Euro kemarin, laporan keungan menunjukkan mereka menangguk untung bersih sebesar Rp 11 trilyun. Atau Rp 11.000 milyar. Gila!

Padahal, kalau mau ditilik, secara yuridis mereka "tak punya produk" sama sekali. Mereka tak punya negara, mereka tak punya klub tapi mereka mampu mengeruk keuntungan begitu masif! Dan banyak pihak yang diuntungkan!

Mulai dari kota atau negara penyelenggara event, klub, hingga perusahaan-perusahaan yang men-support perhelatan mereka sukses.

Masih soal UEFA. Mereka begitu pintar dan kreatif dalam menjalankan roda organisasi. Mereka sukses menciptakan kompetisi yang menjadikan magnet bagi para vendor untuk memasarkan produk-produk mereka.

Di Final Champions League (UCL) di San Siro kemarin misalnya, Boladoang yang berkesempatan meliput langsung, melihat bagaimana kontraktor-kontraktor datang dari berbagai negara yang merupakan anggota UEFA.

Ada yang dari Austria, Turki, dan  dsb. Untuk wasit tentunya dipilih dari negara yang tidak lolos. Mark Clattenburg (Inggris). Volunter juga direkrut bukan hanya dari negara / kota penyelenggara, namun juga dari seantero Eropa yang tergabung dalam UEFA.

Tujuannya jelas, pemerataan! Sebab, meskipun jarang ada klub dari negara-negara tersebut misalnya melaju sampai ke final, namun mereka juga mendapat kesempatan memberikan kontrobusi dalam bentuk yang lain.

Dalam teori evolusi umum, sepak bola khususnya Eropa berhasil mengikuti perkembangan zaman. Mereka tidak semata-mata menjual produk atau jasa semata, namun mampu memasaknya menjadi sebuah sajian baru yang menarik dan layak untuk dijual.

Zaman dulu orang hidup bergantung dari hasil berburu. Kemudian mulai bercocok tangan dan berternak. Makin maju, Dunia yang dimotori Eropa dan negara dunia kedua macam Amerika Serikat berganti baju menjadi negara Industri yang terkenal dengan istilah era Industrialisasi.

Makin ke sini industrialisasi kian ditinggalkan. Karena menimbulkan polusi, butuh lahan yang besar, dan beragam masalah lainnya. Tak percaya? Lihat-lah bagaimana Manchester City memanfaatkan lahan bekas area indsutri menjadi kawasan Etihad Stadium.

Memasuki milenium baru, sektor jasa merajalela. Mainnya di Holloway Road N5, London, aksi Theo Walcott dkk bisa ditonton dari Pasar MInggu, di Jakarta Selatan DI WAKTU YANG BERSAMAAN.

Satu yang kadang membuat saya mengelus dada adalah ada satu negara yang ngga jelas kerjanya. Berantem tanpa tahu alasan yang tepat, mencintai juga karena alasan hampa semata!

Prestasi-nya ngga maju-maju tapi paling demen berantem, pemarah dan pendendam ...

Tentu Anda paham negara mana yang saya maksud, bukan???

Ah sudah-lah. Saya hanya ngelantur karena agak jenuh berkutat dengan sepak bola ...

 

|| @harispardede ||

Berita Terkait