Ultimo Partido de Andres Iniesta

Ultimo Partido de Andres Iniesta

BD - Hari ini, tepat dua jam sebelum kick off terakhir Andres Iniesta, 34 dalam balutan seragam Blaugrana saya menulis artikel ini dengan penuh kegugupan. 

Seorang seniman sepak bola, role model terbaik yang pernah dilahirkan planet ini akan mengakhiri laga terakhirnya saat Barca bersua dengan Real Sociedad di jornada pamungkas musim 2017-18. 

Menurut info yang beredar, Barceslonistas sudah menyiapkan koreo untuk melepas putra terbaik jebolan La Masia ini untuk berlayar ke petulangan mereka berikutnya. Bukan ke Liga China seperti yang didengung-dengungkan, melainkan menuju tanah Inggris menjadi asisten Pep Guardiola di Manchester City yang bisa jadi akan melapangkan jalan dia untuk menjadi pelatih hebat di masa yang akan depan. 

Sehari sebelumnya, saya begitu deg-degan tak sabar menanti dan menyaksikan gerakan-gerakan tubuh sang legenda untuk terakhir kalinya bersama tim yang sudah dihuninya selama 22 tahun sejak di junior langsung di depan mata kepala saya sendiri. Tak terbayangkan bagaimana riuhnya Camp Nou terutama setiap Iniesta menyentuh bola. 

Tak terbayangkan pula bagaimana rekasi publik Camp Nou ketika sang bintang ditarik keluar untuk memberikan kesempatan bagi fans untuk melakukan penghormatan.

Hemmm... Kalau saya saja nervous jelang 'ultimo partido' ini, tak terbayangkan pula bagaimana seorang Iniesta yang hampir 2/3 hidupnya dihabiskan melewati malam terakhirnya sebagai Cules

Iniesta merupakan merupakan cermin dari pendidikan bernama La Masia, yang bukan hanya mengedepankan skill dalam mengolah 'si kulit bundar' tapi juga attitude. 

Ya! Attitude (dalam bahasa Spanyol ACTITUD), sebuah kosakata yang sering meluncur dari mulut pelatih timnas Indonesia, Luis Milla dalam setiap konferensi pers dan kerap membuat para wartawan tertawa karena sudah bisa menebak statement-nya. 

Tapi memang benar adanya. Attitude adalah kekuatan terbesar jebolan La Masia. Gampang cara membedakannya. Lihat Neymar, Luis Suarez, Ronaldo Luis Nazario (Brazil), atau Samuel Eto'o bahkan Zlatan Ibrahomic. 

Rata-rata  mereka punya 'masalah' saat dan atau setelah meninggalkan Barca. Tapi mereka-mereka yang dididik dengan kurikulum La Masia benar-benar role model bagi anak-anak bukan hanya di Provinsi Catalonia tapi juga di seantero dunia. Gosip miring tengan mereka hampir jarang kedengaran. 

Jose Mourinho tahu betul soal ini. Attitude memang kekuatan anak-anak La Masia. Itu mengapa, ketika Mou di Real Madrid dia coba menghancurkan pilar ini dengan melakukan pelanggaran-pelanggaran biadab ke para punggawa Barca. Hasilnya? Dominasi Azulgrana di La Liga tetap tak terbendung.

Kembali ke Iniesta! Saya memang tak pernah menyaksikan baik lewat TV maupun secara langsung laga debut sang maestro lapangan hijau. 

Namun saya merasa sungguh sangat beruntung dapat mengadiri farewell party pria yang konon dari keluar pemilik brand anggur Spanyol ternama, "Bodega Iniesta" ini. 

Saat mengingap di Alberginn Youth Hostel, saya bertemu dengan beberapa teman dari berbagai negara, Jerman, Kolombia dan Spanyol. 

And you know what? Mereka semua datang jauh-jauh untuk menyaksikan 'ultimo partido'-nya Iniesta. What a world! 

Sambil menonton Final Piala Fa Cup di ruang tengah, kami berbincang bagaimana Iniesta telah berkontribusi begitu luar biasa bukan hanya bagi sepak bola itu sendiri, tapi telah menjadi insipirasi bagi banyak orang. 

Satu hal yang kami sepakati adalah Iniesta sama sekali tak perlu meraih gelar individu sepak bola paling bergengsi di muka bumi, Ballon d'Or, karena dia sudah merenggut hati seluruh pecinta sepak bola di dunia.

Oiya? Ngomong-ngomong sasih ingat gol-nya ke gawang Belanda di partai puncak di Afrika Selatan ketika Spanyol merebut Piala Dunia untuk pertama kalinya? Usai menjebol gawang Maarten Sketelenburg, Iniesta membuka jersey-nya dan menunjukkan kaos yang bertuliskan: Dani Jarque Siempre Con Nosotros yang artinya: "Dani Jarque selalu Bersama Kita". 

Itu mengapa setiap Barca tandang ke markas Espanyol, publik RCDE selalu memberinya standing applause. Sesuatu yang sebenarnya hampir mustahil dilakukan pendukung Espanyol kepada punggawa Barca mengingat rivalitas satu kota mereka yang begitu keras. 

April kemarin ketika Iniesta mengumumkan pengunduran dirinya, setiap tampil di kandang lawan, fans memberikan standing applause kepada pemilik nomor punggung "8" ini. 

Hemmm... benar memang kata Ronaldinho: "If you love footbal then you must love Iniesta"

Gracias Iniesta! Suerte!

BD - Hari ini, tepat dua jam sebelum kick off terakhir Andres Iniesta, 34 dalam balutan seragam Blaugrana saya menulis artikel ini dengan penuh kegugupan. 

Seorang seniman sepak bola, role model terbaik yang pernah dilahirkan planet ini akan mengakhiri laga terakhirnya saat Barca bersua dengan Real Sociedad di jornada pamungkas musim 2017-18. 

Menurut info yang beredar, Barceslonistas sudah menyiapkan koreo untuk melepas putra terbaik jebolan La Masia ini untuk berlayar ke petulangan mereka berikutnya. Bukan ke Liga China seperti yang didengung-dengungkan, melainkan menuju tanah Inggris menjadi asisten Pep Guardiola di Manchester City yang bisa jadi akan melapangkan jalan dia untuk menjadi pelatih hebat di masa yang akan depan. 

Sehari sebelumnya, saya begitu deg-degan tak sabar menanti dan menyaksikan gerakan-gerakan tubuh sang legenda untuk terakhir kalinya bersama tim yang sudah dihuninya selama 22 tahun sejak di junior langsung di depan mata kepala saya sendiri. Tak terbayangkan bagaimana riuhnya Camp Nou terutama setiap Iniesta menyentuh bola. 

Tak terbayangkan pula bagaimana rekasi publik Camp Nou ketika sang bintang ditarik keluar untuk memberikan kesempatan bagi fans untuk melakukan penghormatan.

Hemmm... Kalau saya saja nervous jelang 'ultimo partido' ini, tak terbayangkan pula bagaimana seorang Iniesta yang hampir 2/3 hidupnya dihabiskan melewati malam terakhirnya sebagai Cules

Iniesta merupakan merupakan cermin dari pendidikan bernama La Masia, yang bukan hanya mengedepankan skill dalam mengolah 'si kulit bundar' tapi juga attitude. 

Ya! Attitude (dalam bahasa Spanyol ACTITUD), sebuah kosakata yang sering meluncur dari mulut pelatih timnas Indonesia, Luis Milla dalam setiap konferensi pers dan kerap membuat para wartawan tertawa karena sudah bisa menebak statement-nya. 

Tapi memang benar adanya. Attitude adalah kekuatan terbesar jebolan La Masia. Gampang cara membedakannya. Lihat Neymar, Luis Suarez, Ronaldo Luis Nazario (Brazil), atau Samuel Eto'o bahkan Zlatan Ibrahomic. 

Rata-rata  mereka punya 'masalah' saat dan atau setelah meninggalkan Barca. Tapi mereka-mereka yang dididik dengan kurikulum La Masia benar-benar role model bagi anak-anak bukan hanya di Provinsi Catalonia tapi juga di seantero dunia. Gosip miring tengan mereka hampir jarang kedengaran. 

Jose Mourinho tahu betul soal ini. Attitude memang kekuatan anak-anak La Masia. Itu mengapa, ketika Mou di Real Madrid dia coba menghancurkan pilar ini dengan melakukan pelanggaran-pelanggaran biadab ke para punggawa Barca. Hasilnya? Dominasi Azulgrana di La Liga tetap tak terbendung.

Kembali ke Iniesta! Saya memang tak pernah menyaksikan baik lewat TV maupun secara langsung laga debut sang maestro lapangan hijau. 

Namun saya merasa sungguh sangat beruntung dapat mengadiri farewell party pria yang konon dari keluar pemilik brand anggur Spanyol ternama, "Bodega Iniesta" ini. 

Saat mengingap di Alberginn Youth Hostel, saya bertemu dengan beberapa teman dari berbagai negara, Jerman, Kolombia dan Spanyol. 

And you know what? Mereka semua datang jauh-jauh untuk menyaksikan 'ultimo partido'-nya Iniesta. What a world! 

Sambil menonton Final Piala Fa Cup di ruang tengah, kami berbincang bagaimana Iniesta telah berkontribusi begitu luar biasa bukan hanya bagi sepak bola itu sendiri, tapi telah menjadi insipirasi bagi banyak orang. 

Satu hal yang kami sepakati adalah Iniesta sama sekali tak perlu meraih gelar individu sepak bola paling bergengsi di muka bumi, Ballon d'Or, karena dia sudah merenggut hati seluruh pecinta sepak bola di dunia.

Oiya? Ngomong-ngomong sasih ingat gol-nya ke gawang Belanda di partai puncak di Afrika Selatan ketika Spanyol merebut Piala Dunia untuk pertama kalinya? Usai menjebol gawang Maarten Sketelenburg, Iniesta membuka jersey-nya dan menunjukkan kaos yang bertuliskan: Dani Jarque Siempre Con Nosotros yang artinya: "Dani Jarque selalu Bersama Kita". 

Itu mengapa setiap Barca tandang ke markas Espanyol, publik RCDE selalu memberinya standing applause. Sesuatu yang sebenarnya hampir mustahil dilakukan pendukung Espanyol kepada punggawa Barca mengingat rivalitas satu kota mereka yang begitu keras. 

April kemarin ketika Iniesta mengumumkan pengunduran dirinya, setiap tampil di kandang lawan, fans memberikan standing applause kepada pemilik nomor punggung "8" ini. 

Hemmm... benar memang kata Ronaldinho: "If you love footbal then you must love Iniesta"

Gracias Iniesta! Suerte!

BD - Hari ini, tepat dua jam sebelum kick off terakhir Andres Iniesta, 34 dalam balutan seragam Blaugrana saya menulis artikel ini dengan penuh kegugupan. 

Seorang seniman sepak bola, role model terbaik yang pernah dilahirkan planet ini akan mengakhiri laga terakhirnya saat Barca bersua dengan Real Sociedad di jornada pamungkas musim 2017-18. 

Menurut info yang beredar, Barceslonistas sudah menyiapkan koreo untuk melepas putra terbaik jebolan La Masia ini untuk berlayar ke petulangan mereka berikutnya. Bukan ke Liga China seperti yang didengung-dengungkan, melainkan menuju tanah Inggris menjadi asisten Pep Guardiola di Manchester City yang bisa jadi akan melapangkan jalan dia untuk menjadi pelatih hebat di masa yang akan depan. 

Sehari sebelumnya, saya begitu deg-degan tak sabar menanti dan menyaksikan gerakan-gerakan tubuh sang legenda untuk terakhir kalinya bersama tim yang sudah dihuninya selama 22 tahun sejak di junior langsung di depan mata kepala saya sendiri. Tak terbayangkan bagaimana riuhnya Camp Nou terutama setiap Iniesta menyentuh bola. 

Tak terbayangkan pula bagaimana rekasi publik Camp Nou ketika sang bintang ditarik keluar untuk memberikan kesempatan bagi fans untuk melakukan penghormatan.

Hemmm... Kalau saya saja nervous jelang 'ultimo partido' ini, tak terbayangkan pula bagaimana seorang Iniesta yang hampir 2/3 hidupnya dihabiskan melewati malam terakhirnya sebagai Cules

Iniesta merupakan merupakan cermin dari pendidikan bernama La Masia, yang bukan hanya mengedepankan skill dalam mengolah 'si kulit bundar' tapi juga attitude. 

Ya! Attitude (dalam bahasa Spanyol ACTITUD), sebuah kosakata yang sering meluncur dari mulut pelatih timnas Indonesia, Luis Milla dalam setiap konferensi pers dan kerap membuat para wartawan tertawa karena sudah bisa menebak statement-nya. 

Tapi memang benar adanya. Attitude adalah kekuatan terbesar jebolan La Masia. Gampang cara membedakannya. Lihat Neymar, Luis Suarez, Ronaldo Luis Nazario (Brazil), atau Samuel Eto'o bahkan Zlatan Ibrahomic. 

Rata-rata  mereka punya 'masalah' saat dan atau setelah meninggalkan Barca. Tapi mereka-mereka yang dididik dengan kurikulum La Masia benar-benar role model bagi anak-anak bukan hanya di Provinsi Catalonia tapi juga di seantero dunia. Gosip miring tengan mereka hampir jarang kedengaran. 

Jose Mourinho tahu betul soal ini. Attitude memang kekuatan anak-anak La Masia. Itu mengapa, ketika Mou di Real Madrid dia coba menghancurkan pilar ini dengan melakukan pelanggaran-pelanggaran biadab ke para punggawa Barca. Hasilnya? Dominasi Azulgrana di La Liga tetap tak terbendung.

Kembali ke Iniesta! Saya memang tak pernah menyaksikan baik lewat TV maupun secara langsung laga debut sang maestro lapangan hijau. 

Namun saya merasa sungguh sangat beruntung dapat mengadiri farewell party pria yang konon dari keluar pemilik brand anggur Spanyol ternama, "Bodega Iniesta" ini. 

Saat mengingap di Alberginn Youth Hostel, saya bertemu dengan beberapa teman dari berbagai negara, Jerman, Kolombia dan Spanyol. 

And you know what? Mereka semua datang jauh-jauh untuk menyaksikan 'ultimo partido'-nya Iniesta. What a world! 

Sambil menonton Final Piala Fa Cup di ruang tengah, kami berbincang bagaimana Iniesta telah berkontribusi begitu luar biasa bukan hanya bagi sepak bola itu sendiri, tapi telah menjadi insipirasi bagi banyak orang. 

Satu hal yang kami sepakati adalah Iniesta sama sekali tak perlu meraih gelar individu sepak bola paling bergengsi di muka bumi, Ballon d'Or, karena dia sudah merenggut hati seluruh pecinta sepak bola di dunia.

Oiya? Ngomong-ngomong sasih ingat gol-nya ke gawang Belanda di partai puncak di Afrika Selatan ketika Spanyol merebut Piala Dunia untuk pertama kalinya? Usai menjebol gawang Maarten Sketelenburg, Iniesta membuka jersey-nya dan menunjukkan kaos yang bertuliskan: Dani Jarque Siempre Con Nosotros yang artinya: "Dani Jarque selalu Bersama Kita". 

Itu mengapa setiap Barca tandang ke markas Espanyol, publik RCDE selalu memberinya standing applause. Sesuatu yang sebenarnya hampir mustahil dilakukan pendukung Espanyol kepada punggawa Barca mengingat rivalitas satu kota mereka yang begitu keras. 

April kemarin ketika Iniesta mengumumkan pengunduran dirinya, setiap tampil di kandang lawan, fans memberikan standing applause kepada pemilik nomor punggung "8" ini. 

Hemmm... benar memang kata Ronaldinho: "If you love footbal then you must love Iniesta"

Gracias Iniesta! Suerte!

 

Berita Terkait